Selasa, 28 April 2015

PLATO (+ 427-347 SM)



“…orang berilmu mengetahui orang yang bodoh karena dia
pernah bodoh, sedangkan orang bodoh tidak mengetahui
orang yang berilmu karena dia tidak pernah berilmu…” (Plato)
“…jika cinta adalah gerak jiwa yang kosong tanpa pikiran, maka
budi pekerti yang tinggi adalah rasa malu pada diri sendiri…” (Plato)

a.      Curriculum Vitea
Sampailah kita pada seorang filsuf Yunani kuno, ustadz Plato—dalam lidah orang Arab dikenal dengan Aflathun—adalah embrio bagi lahirnya filsafat politik dan sekaligus dedengkot pemikiran etika dan metafisika mereka. Pendapat-pendapatnya di bidang ini sudah terbaca luas lebih dari 2300 tahun. Tak ada yang membantah, Plato berkedudukan bagai kakek-moyangnya pemikir Barat. Plato lahir ketika Athena sudah diramaikan oleh para filsuf dan tentu saja bromocorah-bromocah kaum Sofis. Sejak muda ia berkenalan dengan ustadz Socrates yang jadi guru sekaligus sahabatnya. Tahun 399 SM, ketika Socrates berumur tujuh puluh tahun, dia diseret ke pengadilan dengan tuduhan miring, yakni berbuat brengsek dengan merusak akhlak angkatan muda Athena. Socrates dikutuk, dihukum mati. Eksekusi mati Socrates dengan bunuh diri—yang disebut Plato "orang terbijaksana, terjujur, terbaik dari semua manusia yang saya pernah kenal"—membuat Plato benci pada pemerintah polis-demokratis.
Bak ayam kehilangan induk, tak lama pasca kematian ustadz Socrates, Plato pergi meninggalkan Athena dan selama sepuluh-duabelas tahun mengembara melanglang buana mengukuti ke mana kaki melangkah. Sekitar tahun 387 SM dia kembali ke Athena, mendirikan perguruan di sana, sebuah akademi yang berjalan lebih dari 900 tahun. Plato menghabiskan sisa umurnya yang empat puluh tahun di Athena, mengajar dan menulis ihwal filsafat. Muridnya yang masyhur dan paling sakti, Aristoteles, yang jadi murid akademi di umur tujuh belas tahun sedangkan Plato waktu itu sudah menginjak umur enam puluh tahun. Plato tutup umur dan resmi bergelar al-marhum pada usia tujuh puluh tahun.

b.      Epistemologinya
Setelah meninggalnya sang ustadz, Plato meneruskan ajaran dan tradisinya dalam berdialog dan mengarang dialog, bahkan sebagian besar karyanya, kecuali Apologia, adalah dialog-dialog. Plato sangat dipengaruhi Sokrates dalam berfilsafat, bahkan seluruh denyut nadi dan detak jantung Plato adalah sokratik, ia cenderung mencari aspek-aspek dialogis dari segala realitas dan gejala, sehingga bagi Plato, filsafat adalah dialog. Pendek kata, ustadz Plato adalah tukang cerita.
Tak lama setelah kembali dari Italia, ia mendirikan sekolah yang diberi nama ”Akademia”, nama ini ia dedikasikan bagi seorang pahlawan Yunani bernama Akademos. Yang membedakan Sokrates dengan Plato adalah Sokrates tidak mengajar, hanya berdialog sedangkan Plato intensif mengajar, hanya saja Plato tidak begitu frontal menentang mitos-mitos, malah dalam karya-karya Plato banyak terdapat mitologi. Inti filsafat Plato adalah ide, baginya ide-ide bukanlah sesuatu yang subyektif berupa gagasan belaka, akan tetapi obyektif, terlepas dari subyek berpikir. Bagi Plato ide tidak diciptakan dari pemikiran, justru sebaliknya, pemikiranlah yang tergantung pada ide-ide. Pemikiran tidak lain dari pada menaruh perhatian pada ide-ide. Dalam karyanya berjudul Politeia (Republik), Plato mengatakan bahwa terdapat hierarki dalam ide-ide, dan seluruh hierarki itu akhirnya memuncak pada ide ”yang baik”. Dalam karya yang lain, Shopistes, Plato mengatakan bahwa pada puncak ”dunia ideal” terdapat lima ide (ada, identik, lain, diam dan gerak), kelimanya menghubungakan semua jaringan ide.
v  Ciri khas Karya Plato

1.   Bersifat Sokratik
Di dalam karya-karya Plato, yang memang telah ia tulis ketika masa mudanya, Plato ini selalu menampilkan tentang "kepribadian Socrates" serta karangan-karangan Socrates sebagai topik utama dalam rangka menyusun karya-karyanya itu. Bahkan, yang mengaliri seluruh aliran darah Plato adalah Socrates sendiri.
2.   Berbentuk Dialog
Pada kenyataanya, bahwa hampir seluruh karya-karya Plato itu dikemas dalam bentuk nada dialog. Bahkan dalam salah satu karyanya, ia mengemukakan pendapatnya bahwa: "Pena dan tinta itu dapat membekukan pemikiran-pemikiran sejati, yang ditulis dalam huruf-huruf yang membisu". Ia meneruskan fatwanya: "Jika suatu pemikiran itu perlu dituliskan, maka tulisan yang paling cocok dan yang paling baik adalah tulisan yang berbentuk dialog". Ini jelas pengaruh ustadz Socrates.
Demikianlah, isi kepala orang itu kan berbeda-beda. Jadi beda kepala, beda pula pemikirannya. Kalaupun sama, itu hanya merupakan kebetulan (ittifaqiyah) saja; kalaupun berbeda, itu juga hanya merupakan perbedaan (ikhtilafiyah) semata. lantas, intinya apa? Jangan diributkan! Lebih baik ngopi saja…
3.   Terdapat Banyak Mite
Biasanya, Plato mempergunakan mite-mite untuk menjelaskan dan menerangkan tentang ajaran-ajarannya, yang bersifat abstrak dan adiduniawi. Bahkan Verhaak sampai-sampai menggolongkan tulisan-tulisan hasil karya Plato itu ke dalam "karya sastra", dan bukan ke dalam "karya ilmiah" yang sistematis. Alasannya karena 2 ciri yang terakhir itu, yakni banyak mite dan selalu berbentuk dialog.

v  Pemikirannya: Tentang Ide-ide
Seperti yang telah kita ketahui, bahwa salah satu warisan Plato yang terpenting dan pokok adalah ijtihad-nya mengenai ide. Pandangan Plato terhadap ide-ide ini, sebenarnya sangat dipengaruhi oleh pandangan-pandangan Socrates tentang definisi absolut, paten, tidak setengah-setengah. Namun perlu kita ketahui, bahwa ide yang dimaksud oleh Plato ini, sama sekali bukan berarti ide yang dimaksud oleh orang-orang modern. Sebab ide yang dimaksud oleh orang-orang modern adalah gagasan atau tanggapan atau "gagasan pokok" dan sebagainya, yang hanya terdapat di dalam pemikiran saja. Tetapi ide yang dimaksud oleh Plato adalah: Ide yang tidak diciptakan oleh pemikiran manusia, ide yang tidak tergantung pada pemikiran manusia, ide yang bukan muncul dari hasil pemikiran manusia.  Ide tidak tergantung pada pemikiran manusia, melainkan pemikiran manusialah yang tergantung pada ide. Ide ini merupakan "citra pokok" dan perdana realitas, non-material, abadi, dan tidak berubah. Sebab menurut Plato, ide itu "sudah ada" dan "berdiri sendiri" di luar pemikiran manusia.
Seluruh ide-ide itu sebenarnya saling berkaitan antara yang satu dengan yang lainnya, misalnya: ide tentang 2 buah lukisan yang tidak dapat terlepas dari ide 2, sedangkan ide 2 itu sendiri tidak bisa terpisah dari ide genap. Namun pada akhirnya terdapat "puncak" yang paling tinggi di antara hubungan ide-ide tersebut. Nah, puncak inilah yang disebut sebagai ide yang indah, yang melampaui seluruh ide yang ada.

v  Tentang Dunia Inderawi
Dunia inderawi adalah dunia yang mencakup keseluruhan benda-benda jasmani yang bersifat kongkrit, yang dapat dirasakan oleh panca indera kita. Dunia inderawi ini, tidak lain hanyalah suatu refleksi atau bayangan daripada dunia yang ideal. Biasanya selalu terjadi perubahan dalam dunia inderawi ini. Segala sesuatu yang terdapat dalam dunia jasmani ini bersifat fana, dapat rusak, dapat hancur, dan dapat mati.

v  Tentang Karya Seni
Pandangan Plato mengenai karya seni ini sebenarnya dipengaruhi oleh pandangannya tentang ide. Sikap Plato terhadap seni itu sangat jelas, seperti yang telah dituangkan dalam salah satu karyanya, yakni Republik (Politeia). Plato ini memandang negatif terhadap karya seni, ia menilai bahwa karya seni itu sebagai mimesis mimesos belaka. Karena bagi Plato, bahwa karya seni itu adalah hanya "tiruan" dari realita yang sudah ada. (Dalam hal ini Saya sepertinya tidak sehaluan dengan Mas Plato ini). Realita yang ada itu adalah tiruan (mimesis) dari yang asli. Yang asli itu adalah hanya terdapat dalam ide. Jadi menurut Plato, ide itu jauh lebih unggul, lebih sempurna, lebih bagus, lebih baik, dan lebih indah daripada yang nyata ini.

v  Tentang Keindahan
Pemahaman Plato terhadap suatu keindahan, yang dipengaruhi oleh pemahamannya tentang dunia inderawi, sangat jelas digambarkan dalam salah satu karyanya, yakni Philebus. Plato mempunyai pandangan bahwa keindahan yang sesungguhnya adalah terletak pada dunia ide. Tetapi di sisi lain ia juga berpendapat bahwa kesederhanaan adalah merupakan "ciri khas" dari keindahan, baik dalam alam semesta maupun dalam karya seni. Namun, tetap saja keindahan yang ada di dalam alam semesta ini hanyalah keindahan semu, dan merupakan keindahan pada tingkatan yang lebih rendah.
Dialog-dialog Plato dapat dikelompokkan menjadi (1) Dialog Awal, yakni: Apologi, Charmides, Krito, Euthyphro, Alcibiades, hippies Mayor & Minor, Ion, Lakhes dan Lhycis (2) Dialog Pertengahan, yakni: Euthydemus, Gorgias, Menexenus, Meno, Protogoras, Kratylus, Phaedo, Phaedrus, Republik, Simposium, Parmenides dan Theaetetus. (3) Dialog Akhir, yakni: Sang Sofis, Sang Negarawan, Thimaeus, Kritias, Philebus dan Hukum.  

c.      Atsar al-Tafkir
Bentuk terbaik dari suatu pemerintahan, usul Plato, adalah pemerintahan yang dipegang oleh kaum aristokrat. Yang dimaksud aristokrat di sini bukannya aristokrat yang diukur dari takaran kualitas, yaitu pemerintah yang digerakkan oleh putera terbaik dan terbijak dalam negeri itu. Orang-orang ini mesti dipilih bukan lewat pungutan suara (pemilu) penduduk melainkan lewat proses keputusan bersama. Orang-orang yang sudah jadi anggota penguasa atau disebut "guardian" harus menambah orang-orang yang sederajat semata-mata atas dasar pertimbangan kualitas.
Plato percaya bahwa bagi semua orang, lelaki atau perempuan, mesti disediakan kesempatan memperlihatkan kebolehannya selaku anggota "guardian". Plato merupakan filosof utama yang pertama yang mengusulkan persamaan kesempatan tanpa memandang gender. Untuk membuktikan persamaan pemberian kesempatannya, Plato menganjurkan agar pertumbuhan dan pendidikan anak-anak dikelola oleh negara. Anak-anak pertama-tama harus memperoleh latihan fisik yang menyeluruh, tetapi segi musik, matematika dan lain-lain disiplin akademi tidak boleh diabaikan. Pada beberapa tahap, ujian ekstensif harus diadakan. Mereka yang kurang maju harus diaalurkan untuk ikut serta terlibat dalam kegiatan ekonomi masyarakat, sedangkan orang-orang yang maju harus terus melanjutkan dan menerima gemblengan latihan. Penambahan pendidikan ini harus termasuk bukan cuma pada mata pelajaran akademi biasa, tetapi juga mendalami filosofi yang oleh Plato dimaksud menelaah doktrin bentuk ideal faham metafisikanya.
Keanggotaan guardian tidak dengan sendirinya menarik perhatian masyarakat. Sebab, jadi guardian tidaklah banyak mendapatkan pissi (uang). Mereka hanya dibolehkan memiliki harta pribadi dalam jumlah terbatas dan tak boleh punya tanah buat rumah pribadinya. Mereka menerima gaji tertentu dan tetap (itu pun dalam jumlah yang tak seberapa), dan tidak dibolehkan punya emas atau perak. Anggota guardian tidak diperkenankan punya famili yang terpisah tempatnya, mereka harus makan berbareng, punya pasangan bersama. Imbalan buat pentolan-pentolan filosof ini bukannya kekayaan melainkan kepuasan dalam hal melayani kepentingan umum. Begitulah ringkasnya sebuah Republik (Politea) yang ideal menurut Plato.
Republik terbaca luas selama berabad-abad. Tetapi harus dicatat, sistem politik yang dianjurkan di dalamnya belum pernah secara nyata dipraktekkan sebagai model pemerintahan mana pun. Selama masa antara jaman Plato hingga kini, umumnya negara-negara Eropa menganut sistem kerajaan. Belakangan ini beberapa negara menganut bentuk pemerintah demokratis. Ada juga yang menganut sistem pemerintahan militer, atau di bawah Tiran macam Hitler dan Mussolini. Tak satu pun pemerintahan-pemerintahan ini punya kemiripan dengan republik ideal Plato. Teori Plato tak pernah jadi anutan partai politik mana pun, atau jadi basis gerakan politik seperti halnya terjadi pada ajaran-ajaran Karl Marx, apakah dengan demikian dapat kita simpulkan bahwa hasil karya Plato, kendati diperbincangkan dengan penuh penghargaan, sebenarnya sepenuhnya disisihkan orang dalam praktiknya?
Gagasan Plato juga mempengaruhi struktur pemerintahan Amerika Serikat. Banyak anggota konvensi konstitusi Amerika mengenal dan tak asing dengan gagasan-gagasan politik Plato. Dia maksud, sudah barang tentu, agar konstitusi Amerika Serikat membuka kemungkinan menggali dan mempengaruhi kehendak rakyat. Dan juga diinginkan sebagai sarana memilih orang-orang yang paling bijak dan paling baik untuk memerintah negara. Kesulitan menentukan arti penting pengaruh Plato sepanjang masa—meski luas dan menyebar—adalah ruwet dipaparkan dan bersifat tidak langsung. Sebagai tambahan teori politiknya, diskusinya di bidang etika dan metafisika telah mempengaruhi banyak filosof yang datang belakangan. Apabila ustadz Plato ditempatkan pada urutan sedikit lebih rendah ketimbang Aristoteles dalam daftar akademik, hal ini terutama lantaran Aristoteles bukan saja seorang filosof melainkan pula seorang ilmuwan.
Demikin pengajian kita mengenai al-ustadz Aflathun. Salah satu warisan Plato yang paling terkenal dan ngetop, tidak lain adalah Republik (Δημοκρατία), yang di dalamnya adalah berisi tentang uraian-uraian penting mengenai "garis besar" pandangannya terhadap "keadaan ideal". selain itu, Plato juga menuliskan tentang Hukum dan banyak Dialog, di mana yang selalu menjadi "lakon utamanya" tidak lain adalah Socrates, nabinya sendiri. Karena itu pula tidak mudah menentukan dan memisahkan pemikiran keduanya. Rupanya, Socrates dan Plato adalah satu paket, yang nanti disempurnakan dan dibungkus oleh tukang fotokopi bernama Aristoteles. Tunggu saja kopi-kopi filsafat berikutnya. Wallahu a’lam.
***

Kepanjen (simposium ngopi para filsuf), 13 Jumadil Ula 1432 H  

Referensi
ü  Bertens, K. Ringkasan Sejarah Filsafat, Yogyakarta: Kanisius. 1992
ü  Hatta, Muhammad. Alam Pikiran Yunani, Jakarta:Penerbit Tintamas. 1980.
ü  Michael H. Hart, Seratus Tokoh yang Paling Berpengaruh dalam Sejarah. 1978 Terjemahan Mahbub Djunaidi, 1982
ü  Tjahjadi,Simon Petrus L., Petualangan Intelektual, Yogyakarta: Kanisius.2004.

ü  Verhaak, "Plato: Menggapai Dunia Idea", dalam Sutrisno F.X Mudji dan F. Budi Hardiman, Para Filsuf Penentu Gerak Zaman. Yogyakarta: Kanisius, 1994.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar